Air Makin Langka, Kekeringan dan Karhutla Ancam Sampang
Presnews.my.id|SAMPANG – Kemarau panjang mulai menekan Kabupaten Sampang, Madura. Krisis air bersih perlahan meluas, sementara sejumlah sumber mata air dilaporkan mengalami penurunan debit. Di saat bersamaan, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ikut membesar seiring kondisi lahan yang semakin kering.
![]() |
| Sumber gambar:Wir |
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang menyebut kekeringan berpotensi berlangsung hingga Desember 2026 berdasarkan prediksi yang dihimpun dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah harus bergerak menjaga kebutuhan dasar masyarakat, terutama warga yang mulai kesulitan mendapatkan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Sampang, Fajar Arif Taufikurrahman, ST., MT., mengatakan langkah yang dilakukan saat ini masih didominasi penanganan darurat berupa dropping air bersih dan distribusi jerigen bantuan.
“Untuk saat ini yang dilakukan kami dropping air bersih, juga jerigen bantuan dari Pemprov dan Pemkab. Itu sifatnya sementara. Untuk jangka panjangnya kita memang harus duduk bersama dinas-dinas terkait,” ujar Fajar saat ditemui awak media di ruang kerjanya, Kamis (24/9/2026).
Menurutnya, persoalan kekeringan tidak cukup dihadapi dengan mengirimkan air ketika masyarakat sudah mengalami krisis. Infrastruktur penyimpan air juga perlu dibenahi karena sedimentasi membuat sejumlah waduk dan embung tidak lagi mampu menampung air secara optimal.
“Sekarang waduk dan embung sudah tidak berfungsi lagi. Itu perlu dilakukan pengerukan dan perbaikan agar dapat menampung air lebih optimal pada saat musim penghujan,” paparnya.
Ancaman kekeringan juga terlihat dari kondisi sejumlah sumber mata air yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat.
Fajar menyebut salah satu kawasan yang mengalami penurunan debit berada di Telambeh. Dari sejumlah titik sumber air yang sebelumnya dapat dimanfaatkan, kini hanya tersisa sebagian yang masih bisa digunakan.
“Di Telambeh ada beberapa titik sumber air yang dapat digunakan. Sekarang tinggal dua sumber mata air yang bisa digunakan,” katanya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekeringan tidak hanya menyangkut panjangnya musim kemarau, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan daerah mempertahankan cadangan air.
BPBD Sampang menegaskan dropping air bersih hanya menjadi solusi jangka pendek. Jika kekeringan berulang setiap tahun, pola penanganan darurat perlu dibarengi strategi jangka panjang.
Salah satunya melalui pemetaan wilayah yang berulang kali mengalami kekeringan ekstrem serta pembenahan infrastruktur penampungan air.
Fajar mengatakan BPBD akan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk menyandingkan data wilayah terdampak dengan kebutuhan pembangunan infrastruktur.
“BPBD akan bergerak di bidang data, sedangkan D-PUPR bergerak di bidang infrastruktur. Kita akan sandingkan desa mana yang terdampak kekeringan ekstrem dan kita fungsikan kembali,” tegasnya.
Dengan demikian, penanganan kekeringan tidak berhenti pada pengiriman tangki air. Waduk dan embung yang mengalami sedimentasi, sumber mata air yang debitnya terus menyusut, serta wilayah yang berulang kali dilanda krisis air menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan penanganan lintas sektor.
Persoalan tidak berhenti pada krisis air. Kondisi lahan yang semakin kering juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BPBD bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), serta tokoh masyarakat mendorong penanaman kembali pohon di sejumlah kawasan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko bencana sekaligus menjaga lingkungan, terutama di tengah kondisi sejumlah lahan yang disebut telah mengalami alih fungsi.
Dengan prediksi kemarau yang dapat berlangsung hingga Desember 2026, kewaspadaan terhadap krisis air dan karhutla dinilai perlu dipertahankan. Namun, prediksi cuaca tetap dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer.
Karena itu, persoalan kekeringan di Sampang bukan sekadar soal berapa banyak tangki air yang bisa dikirim ke desa-desa terdampak.
Lebih jauh, kondisi tersebut menjadi alarm perlunya pembenahan tampungan air, perlindungan sumber mata air, penghijauan, serta pemetaan wilayah rawan kekeringan agar krisis serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
(Wir)

