“Karapan Sapi Terusir dari Rumahnya Sendiri: Bangkalan Gagal Jaga Warisan”
Presnews.my.id|BANGKALAN - Karapan sapi di Bangkalan sedang sekarat. Bukan karena kehilangan peminat, melainkan “dibunuh pelan-pelan” oleh mahalnya biaya perizinan di Stadion R.P. Moh Noer Skep. Minggu 3-5-2026.
Di tanah yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat budaya karapan sapi, ironi justru terjadi. Tradisi yang telah mengharumkan nama Madura hingga mancanegara kini tersingkir oleh kebijakan yang dinilai tak berpihak pada pelaku budaya itu sendiri.
Fakta di lapangan berbicara keras: stadion yang seharusnya menjadi rumah bagi para pecinta karapan sapi justru mulai ditinggalkan. Alasannya satu—izin yang “mencekik”.
Seorang peserta yang enggan disebutkan namanya membongkar kondisi sebenarnya.
“Masalahnya jelas, izin mahal sekali. Kami bukan tidak mau lomba di Bangkalan, tapi dipaksa keadaan. Akhirnya kami pindah ke Pamekasan, ke lapangan Karapan Sapi Asam Manis di Murtajih,” ungkapnya.
Pernyataan itu bukan sekadar keluhan, melainkan sinyal keras bahwa ada yang tidak beres dalam tata kelola. Dulu, karapan sapi di Bangkalan hidup dan berdenyut setiap bulan. Kini? Mati suri.
“Dulu rutin, sekarang kosong. Tahun ini hampir tidak ada lomba di stadion Bangkalan. Semua lari ke luar daerah,” lanjutnya.
Yang lebih menyakitkan, para peserta harus menanggung biaya berlipat hanya untuk tetap menjaga tradisi ini hidup.
“Kalau ikut di Pamekasan, biaya bisa dua kali lipat. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau kondisi ini terus, saya bisa berhenti total. Ini bukan soal hobi lagi, ini soal bertahan,” tegasnya.
Pertanyaannya sederhana tapi menohok: untuk siapa sebenarnya stadion itu dibangun, jika pelaku budaya justru tak mampu mengaksesnya?
Ketika izin menjadi mahal dan tak rasional, maka yang terjadi bukan sekadar penurunan aktivitas—melainkan pengusiran halus terhadap budaya itu sendiri. Lebih tragis lagi, ini terjadi di daerah yang seharusnya menjadi benteng terakhir pelestarian karapan sapi.
Jika pemerintah daerah dan dinas terkait tetap abai, maka konsekuensinya jelas: Bangkalan akan kehilangan denyut karapan sapi, bukan karena zaman berubah, tapi karena kebijakan yang gagal memahami akar budaya.
“Kami hanya minta satu—jangan persulit budaya sendiri. Karapan sapi ini adalah warisan, bukan komoditas semata,” pungkasnya.
Ini bukan lagi sekadar keluhan. Ini adalah peringatan. Jika tak segera dibenahi, karapan sapi di Bangkalan bukan hanya terancam punah—tetapi sedang didorong menuju kepunahan.(Red)
