Di Tengah Krisis Air, Tagihan Tetap Datang: Jeritan Ribuan Penghuni Kokoh City Bangkalan

Di Tengah Krisis Air, Tagihan Tetap Datang: Jeritan Ribuan Penghuni Kokoh City Bangkalan

Minggu, 02 Agustus 2026, Agustus 02, 2026

 Di Tengah Krisis Air, Tagihan Tetap Datang: Jeritan Ribuan Penghuni Kokoh City Bangkalan



Presnews.my.id|BANGKALAN - Air bersih yang seharusnya menjadi kebutuhan paling mendasar justru berubah menjadi persoalan yang tak kunjung usai bagi ribuan penghuni Perumahan Kokoh City, Desa Tebul, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan. Di tengah padatnya kawasan hunian tersebut, warga mengaku berkali-kali harus menghadapi kondisi air mati total dalam waktu yang tidak sebentar, sementara tagihan air tetap berjalan seperti biasa. Minggu (2/8).


Kondisi ini memantik gelombang kekecewaan warga. Mereka merasa dipaksa memenuhi kewajiban membayar iuran air, tetapi hak dasar untuk memperoleh pasokan air bersih justru kerap tidak terpenuhi.


Dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Saat ini sedikitnya terdapat delapan cluster aktif yang masing-masing dihuni sekitar 300 rumah. Dengan estimasi mencapai sekitar 2.400 kepala keluarga, gangguan distribusi air telah menyentuh kebutuhan hidup ribuan warga setiap harinya, mulai dari memasak, mandi, mencuci hingga kebutuhan sanitasi lainnya.


Menurut keterangan warga, persoalan tersebut bukan sekadar gangguan teknis sesaat. Mereka menilai akar persoalan berada pada minimnya sumber pasokan air. Dari ribuan rumah yang telah berdiri, kawasan itu disebut hanya ditopang oleh empat titik sumur bor.


Bagi warga, jumlah tersebut dinilai jauh dari memadai untuk melayani kebutuhan ribuan pelanggan. Karena itu, setiap kali terjadi gangguan pada satu titik sumur maupun pompa, dampaknya langsung meluas hingga membuat distribusi air lumpuh di banyak kawasan.


Kekecewaan warga semakin memuncak karena hingga kini belum terlihat langkah konkret berupa penambahan sumur bor baru sebagai solusi jangka panjang. Mereka khawatir persoalan serupa akan terus berulang selama kapasitas produksi air tidak ditingkatkan.


Menanggapi keluhan tersebut, pihak developer Perumahan Kokoh City menyatakan bahwa gangguan distribusi air beberapa waktu terakhir dipicu oleh serangkaian kendala teknis operasional.


Developer menjelaskan bahwa saat dilakukan perawatan berkala terhadap sumur bor, terjadi putusnya kabel seling pompa. Setelah kerusakan tersebut diperbaiki, muncul gangguan lain berupa panel listrik utama yang terbakar sehingga kembali menghambat operasional pompa air.


Pihak manajemen mengklaim seluruh kerusakan tersebut kini telah ditangani oleh tim mekanik. Mereka menyebut distribusi air telah kembali normal dan meminta masyarakat melakukan pengecekan bersama BUMDes Desa Tebul sebagai pengelola teknis layanan air di lapangan.


Namun penjelasan tersebut belum mampu meredam keresahan warga. Sejumlah penghuni menilai alasan gangguan teknis hanya menjawab persoalan jangka pendek, sementara akar masalah yang mereka soroti adalah keterbatasan kapasitas pasokan air yang dinilai tidak sebanding dengan jumlah rumah yang terus bertambah.


Di sisi lain, warga juga mempertanyakan mekanisme penarikan iuran air oleh BUMDes. Mereka menilai tidak adil apabila tagihan tetap dibebankan secara penuh ketika layanan air beberapa kali mengalami mati total dalam kurun waktu yang cukup lama.


Persoalan ini dinilai tidak hanya berdampak terhadap kenyamanan penghuni yang telah menetap, tetapi juga berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat yang berminat memiliki rumah di kawasan tersebut. Buruknya kualitas layanan air bersih dikhawatirkan menjadi catatan negatif yang dapat memengaruhi citra perumahan di mata calon konsumen.


Warga mendesak agar pengembang bersama BUMDes segera menghadirkan solusi yang lebih mendasar, termasuk menambah jumlah sumur bor sesuai kebutuhan kawasan serta membuka transparansi dalam pengelolaan layanan dan penarikan iuran air. Bagi mereka, air bersih bukan sekadar fasilitas pendukung, melainkan hak dasar yang semestinya dipenuhi secara layak dan berkesinambungan. (Tim) 

TerPopuler