“Ketika Air Menjadi Barang Berharga, KWI Pulang ke Tanah Kelahiran Membawa Kehidupan”

“Ketika Air Menjadi Barang Berharga, KWI Pulang ke Tanah Kelahiran Membawa Kehidupan”

Kamis, 08 Oktober 2026, Oktober 08, 2026

 “Ketika Air Menjadi Barang Berharga, KWI Pulang ke Tanah Kelahiran Membawa Kehidupan”

Gambar ini di ambil dari potongan video ketika Ketua Umum KWI distribusikan air bersih kepada warga Kampung merapi



Presnews.my.id|SAMPANG – Di tengah kesulitan warga mendapatkan air bersih, sebuah mobil tangki datang membawa lebih dari sekadar pasokan air. Bagi masyarakat Kampung Merapi, Kelurahan Rongtengah, Kabupaten Sampang, kedatangan itu menjadi tanda bahwa mereka tidak berjalan sendiri menghadapi kebutuhan dasar yang semakin sulit dipenuhi.


Komunitas Wartawan Indonesia (KWI) melalui aksi kemanusiaan “Peduli Berbagi Air Bersih” menyalurkan bantuan air bersih secara langsung kepada warga Kampung Merapi, Rabu (7/10/2026) sore.


Aksi tersebut dipimpin langsung Ketua Umum KWI, Umar Hayat. Yang membuat penyaluran kali ini terasa berbeda, Kampung Merapi bukan sekadar lokasi bantuan. Kawasan tersebut merupakan tanah kelahiran Umar Hayat—tempat ia tumbuh, mengenal kehidupan, serta pernah berbagi suka dan duka bersama masyarakat sebelum kemudian berpindah dan berdomisili di Surabaya.


Karena itu, ketika armada tangki KWI tiba membawa air bersih, ada ikatan emosional yang tidak sekadar dapat diukur dari jumlah liter air yang disalurkan.


“Walaupun bantuan ini kecil, setidaknya bisa bermanfaat untuk warga Kampung Merapi. Ini kampung tempat kelahiran saya, tempat saya tumbuh dari kecil hingga dewasa sebelum kami berpindah ke Surabaya,” ujar Umar Hayat.


Bagi Umar, kembali ke Kampung Merapi dengan membawa bantuan bukan sekadar menjalankan kegiatan sosial. Ada rasa rindu dan kenangan terhadap lingkungan yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.


“Walaupun yang kami bawa hanya air bersih, setidaknya bisa membantu saudara-saudara dan tetangga warga Kampung Merapi yang dulu pernah berjuang bersama kami,” tuturnya.


Di sinilah air bersih menjadi lebih dari sekadar kebutuhan. Ia menjadi simbol kepedulian, persaudaraan, sekaligus cara sederhana untuk kembali menyapa tanah kelahiran.


Begitu armada tangki tiba, warga langsung berdatangan dengan membawa berbagai wadah penampungan. Mereka mengantre secara tertib untuk mendapatkan air yang dibutuhkan bagi keperluan sehari-hari.


Raut wajah warga yang datang menjadi gambaran nyata bahwa kebutuhan air bersih bukan persoalan sederhana. Bagi sebagian masyarakat, air merupakan kebutuhan yang harus diperjuangkan setiap hari.


Sambutan hangat pun diberikan warga kepada jajaran KWI. Mereka mengapresiasi kepedulian insan pers yang tidak hanya menjalankan fungsi pemberitaan, tetapi juga turun langsung ketika masyarakat membutuhkan.


“Saya mewakili warga Kampung Merapi mengucapkan terima kasih banyak kepada Ketua Umum KWI, Bapak Umar Hayat, atas bantuannya. Semoga bantuan ini bermanfaat bagi warga, khususnya masyarakat Merapi. Semoga Ketua KWI sukses selalu dan dimudahkan dalam menjalankan tugas sebagai Ketua Umum KWI,” ujar Hilda mewakili warga.


Bagi KWI, kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian sederhana yang diharapkan mampu meringankan beban masyarakat.


Sebab, di tengah berbagai persoalan kehidupan, terkadang kepedulian tidak harus datang dalam bentuk besar. Cukup hadir ketika masyarakat membutuhkan, membawa apa yang bisa diberikan, dan memastikan tidak ada warga yang merasa sendirian.


Aksi “Bersama Kita Ringankan Beban Warga” itu kemudian ditutup dengan doa bersama.


Dari Kampung Merapi, KWI ingin menyampaikan pesan sederhana: ketika air menjadi sesuatu yang sulit didapat, maka berbagi air berarti berbagi kehidupan. Dan ketika bantuan itu diberikan kepada tanah kelahiran, setetes air pun dapat membawa sejuta kenangan dan makna.


Wir

TerPopuler