“Proyek P3-TGAI Rp195 Juta di Gulbung Disorot, Dugaan Pekerjaan Tak Sesuai Spek Mengemuka”

“Proyek P3-TGAI Rp195 Juta di Gulbung Disorot, Dugaan Pekerjaan Tak Sesuai Spek Mengemuka”

Kamis, 16 Juli 2026, Juli 16, 2026

 “Proyek P3-TGAI Rp195 Juta di Gulbung Disorot, Dugaan Pekerjaan Tak Sesuai Spek Mengemuka”



Presnews.my.id|Sampang – Proyek Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) di Desa Gulbung, Kecamatan Pangarengan, Kabupaten Sampang, menjadi sorotan setelah diduga dikerjakan tidak sesuai spesifikasi teknis. Proyek yang dikelola Kelompok P3A Rabasan Indah dengan anggaran APBN sebesar Rp195 juta itu kini dipertanyakan kualitas pelaksanaannya karena ditemukan sejumlah indikasi pekerjaan yang dinilai tidak memenuhi standar konstruksi.




Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, sejumlah bagian saluran irigasi diduga dikerjakan secara asal. Kedalaman galian terlihat tidak seragam, pasangan batu pada saluran tampak kurang rapi, serta terdapat bagian pekerjaan yang memunculkan dugaan tidak mengacu secara maksimal pada gambar teknis maupun Rencana Anggaran Biaya (RAB). Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan teknis selama proyek berlangsung.



Jika dugaan tersebut terbukti, pelaksanaan proyek berpotensi tidak memenuhi prinsip mutu konstruksi yang menjadi syarat dalam pekerjaan yang dibiayai menggunakan uang negara. Padahal, setiap tahapan pekerjaan P3-TGAI semestinya mengacu pada spesifikasi teknis, gambar kerja, dan RAB agar hasil pembangunan memiliki kualitas, kekuatan, serta umur layanan yang sesuai perencanaan.



Saat dikonfirmasi, Penjabat (Pj) Kepala Desa Gulbung, Maksus, menyebut proyek P3A Rabasan Indah tersebut berada di bawah tanggung jawab seseorang bernama Akrom.



"Proyek HIPPA Rabasan Indah itu milik Akrom," ujarnya singkat.



Namun hingga berita ini ditulis, Akrom belum berhasil ditemui maupun memberikan keterangan untuk mengonfirmasi dugaan yang berkembang.



Sementara itu, sejumlah pekerja di lokasi mengaku hanya berstatus sebagai buruh harian dan tidak mengetahui spesifikasi teknis pekerjaan yang mereka laksanakan.



"Kami hanya pekerja atau kuli. Soal RAB maupun gambar kami tidak tahu. Kami hanya diminta mengerjakan saluran ini. Untuk kedalaman galian juga bukan kami yang menentukan," ungkap salah seorang pekerja.



Pengakuan tersebut semakin menguatkan pentingnya peran pengawas lapangan dan pelaksana teknis dalam memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan sesuai standar. Tanpa pengawasan yang optimal, kualitas proyek yang dibiayai APBN dikhawatirkan tidak memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat, khususnya para petani yang bergantung pada fungsi jaringan irigasi.



Masyarakat pun berharap Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas segera turun melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap proyek tersebut. Evaluasi dinilai penting untuk memastikan apakah pelaksanaan pekerjaan telah sesuai dengan spesifikasi teknis, gambar kerja, dan RAB. Apabila ditemukan adanya penyimpangan, masyarakat meminta dilakukan perbaikan serta tindak lanjut sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.



Hingga berita ini dipublikasikan, Akrom selaku pihak yang disebut bertanggung jawab atas pelaksanaan proyek belum memberikan klarifikasi. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan hak koreksi kepada seluruh pihak terkait sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Editor: Wir

TerPopuler