“Lima Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, Pers Sampang Nyalakan Lilin dan Ketuk Pintu Langit”
Presnews.my.id|SAMPANG – Solidaritas terhadap sesama pekerja media terus mengalir dari berbagai daerah. Kali ini, Sejumlah organisasi jurnalis di Kabupaten Sampang menggelar aksi doa bersama bagi lima jurnalis dan tiga kru kapal yang dilaporkan hilang kontak saat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. Senin 14-9-2026.
Aksi empati ini di gelar di Monumen Trunojoyo, Jalan Trunojoyo, Kabupaten Sampang, pada Minggu (13/9) pukul 19.00 WIB.
Aksi religi dan moral tersebut diikuti oleh belasan organisasi jurnalis yang ada di Kabupaten Sampang, antara lain: KJJT Indonesia, PWI, POS, ITJI, AJS, AWAS, PWS, PWRI, PJS, LMS, SMSI, dan IWO. Kegiatan berlangsung dengan penuh khidmat.
Dengan menyalakan lilin dan memajang foto 5 jurnalis dan 3 ABK yang hilang, para insan pers melantunkan ayat-ayat suci dan doa keselamatan agar seluruh korban segera ditemukan dalam kondisi sehat walafiat. Kegiatan berlangsung penuh khidmat dan lancar.
Ketua DPC Komunitas Jurnalis Jaringan Terpadu (KJJT) Kabupaten Sampang, Bambang Gunawan menyampaikan, kegiatan ini merupakan wujud nyata ikatan emosional dan persaudaraan tanpa batas antar-insan pers.
"Profesi jurnalis memiliki risiko yang sangat tinggi di lapangan demi menyampaikan kebenaran informasi kepada masyarakat. Kabar hilangnya lima rekan kami di Anak Krakatau adalah duka bagi seluruh jurnalis di Indonesia, termasuk kami di Sampang. Melalui doa bersama ini, kami mengetuk pintu langit berharap ada mukjizat keselamatan," ujar BBG sapaan akrabnya di sela-sela kegiatan, Minggu malam (13/9/2026).
Hal senada juga disampaikan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sampang Hanggara Pratama, menurutnya, Kabar hilangnya mereka sejak 7 September 2026 tentu menjadi duka dan keprihatinan bagi kami, khususnya bagi keluarga, rekan-rekan sesama jurnalis.
"Sehingga, hari ini kami berkumpul untuk menggelar doa bersama sekaligus menyampaikan dukungan moral kepada seluruh tim gabungan yang hingga saat ini masih berupaya melakukan pencarian," ujar Hanggara Pratama
Kami menyadari, ikhtiar pencarian di tengah kondisi laut dan cuaca yang tidak mudah membutuhkan kekuatan, ketekunan, dan doa dari kita semua.
Hanggara melanjutkan, Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa mereka tidak sendiri. Ada keluarga yang terus menunggu, ada rekan-rekan yang terus berharap, dan ada insan pers yang terus mendoakan agar mereka segera ditemukan.
"Kami sangat berharap, kelima jurnalis dan tiga ABK tersebut dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat dan kembali berkumpul bersama keluarga serta orang-orang yang mereka cintai," harapnya.
Kami juga mendoakan, seluruh tim gabungan yang terlibat dalam proses pencarian senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, kekuatan, serta kemudahan dalam menjalankan tugasnya.
Dan yang tidak kalah penting, kami berharap keluarga yang hingga saat ini masih menunggu kabar diberikan ketabahan, kesabaran, dan kekuatan dalam menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian ini.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, lima jurnalis foto dilaporkan hilang kontak sejak Senin, 7 September 2026, setelah bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang menggunakan speedboat.
Kelima jurnalis yang tengah menjalankan tugas mulia tersebut adalah:
M. Bagus Khoirunnas (Pewarta Foto ANTARA Biro Banten)
Arie Basuki (Merdeka.com)
Yudistiro Pranoto (iNews)
Firdaus Wajidi (Anadolu Agency)
Donal Husni (Freelance Photographer)
Selain kelima jurnalis tersebut, tiga kru dan pemandu kapal lokal yakni Warta (Kapten), Surakman (ABK), dan Heriyanto (Guide) juga ikut hilang dalam insiden tersebut.
Komunikasi terakhir dari rombongan tercatat pada pukul 14.42 WIB saat salah satu korban mengirimkan titik lokasi terakhir, sebelum seluruh gawai terputus total akibat situasi di sekitar area erupsi.
Melalui momentum ini, sejumlah organisasi jurnalis yang ada di Kabupaten Sampang juga menyatakan dukungan moral penuh kepada Basarnas, TNI, Polri, dan tim SAR gabungan yang hingga hari ini masih terus berjuang menyisir perairan terbuka Selat Sunda di tengah medan yang berbahaya. Mereka berharap proses pencarian bisa berjalan maksimal dan membuahkan titik terang secepatnya.
(Wir)
.jpg)