“Ketika Bantuan Jadi Ancaman: Dapur Tanggumong #004 Bungkam, Warga Bersiap Lapor ke BGN”
Presnews.my.id|SAMPANG - Ini bukan sekadar kelalaian—ini dugaan pembiaran yang membahayakan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kategori B3 yang seharusnya menjadi jaminan kualitas pangan bagi warga, justru berubah menjadi sumber keresahan. SPPG Tanggumong #004 Yayasan Haqqul Yakin diduga menyalurkan makanan tak layak konsumsi pada Kamis (16/04)—berbau menyengat, memicu keluhan massal, dan mencoreng tujuan program negara.
Yang lebih mengkhawatirkan: saat publik menuntut penjelasan, pengelola justru menghilang.
Kepala SPPG Tanggumong #004, Dinda Ayu Alfiyanti Putri, dikonfirmasi pada Sabtu (18/04), namun tidak memberikan respons apa pun. Pesan WhatsApp tak dibalas, panggilan telepon diabaikan. Di tengah situasi yang menyangkut kesehatan masyarakat, sikap bungkam ini bukan lagi sekadar diam—melainkan terkesan sebagai bentuk penghindaran tanggung jawab.
Redaksi telah meminta klarifikasi terkait standar pengolahan dan penyimpanan makanan, terutama menu berkuah seperti rawon yang dilaporkan mengeluarkan aroma tidak sedap saat diterima warga. Distribusi yang dilakukan pada pukul 15.00–15.30 WIB pun dipertanyakan karena berpotensi menurunkan kualitas makanan. Namun hingga kini, tak satu pun dijawab.
Di lapangan, suara warga semakin keras dan seragam: makanan yang diterima diduga tak layak konsumsi.
“Bukan satu orang, banyak yang mengeluhkan, baunya sudah tidak enak,” ujar salah satu warga.
Kekecewaan berubah menjadi kemarahan. Warga merasa program yang seharusnya melindungi justru berpotensi membahayakan.
“Kami akan laporkan ke BGN kalau tidak ada penjelasan,” tegas warga lainnya.
Fakta-fakta ini memperkuat dugaan adanya masalah serius dalam pengelolaan dan pengawasan mutu MBG B3 di SPPG Tanggumong #004. Jika benar makanan tak layak bisa lolos distribusi, maka yang dipertanyakan bukan hanya teknis—tetapi juga integritas pelaksanaan program.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak SPPG maupun otoritas terkait. Redaksi tetap membuka ruang klarifikasi—namun hingga kini, yang terdengar justru satu hal: diam yang mencurigakan di tengah keluhan yang kian bising. (Wir)
