Presnews.my.id|Sampang – Program Menu Makan Bergizi di Kabupaten Sampang kian menjadi sorotan publik. Alih-alih memperkuat pemenuhan gizi bagi penerima manfaat, kondisi di lapangan justru memunculkan ironi: porsi makanan diduga makin hari makin “mengecil”. Senin 23-2-2026.
Sejumlah temuan yang beredar memantik kecurigaan bahwa implementasi program belum berjalan lurus dengan tujuan awalnya. Publik pun mulai mempertanyakan keseriusan pengelolaan program yang sejatinya menyasar kelompok rentan tersebut.
Seorang pengamat yang enggan disebut namanya menilai situasi ini sebagai sinyal peringatan keras bagi para pemangku kebijakan. Ia menegaskan, program dengan embel-embel “bergizi” tidak boleh berhenti pada slogan.
“Kalau porsi di lapangan terus menyusut, ini bukan lagi persoalan teknis biasa. Ini menyangkut integritas program. Jangan sampai istilah ‘bergizi’ hanya jadi bungkus manis, sementara isi di dalamnya justru makin menipis,” ujarnya tajam.
Ia mendesak pemerintah daerah maupun pemerintah pusat agar tidak menunggu polemik membesar sebelum bertindak. Menurutnya, pembiaran hanya akan mempertebal dugaan publik adanya praktik yang tidak sehat dalam pelaksanaan program.
“Pemerintah daerah maupun pusat harus segera turun tangan. Jangan sampai penerima manfaat dijadikan korban proyek basah. Ini uang rakyat, ini hak masyarakat. Program sosial harus steril dari kepentingan menyimpang, apalagi di bulan Ramadan yang seharusnya menjadi momentum empati,” tegasnya.
Pengamat tersebut juga menekankan bahwa transparansi anggaran, pengawasan distribusi, serta audit independen bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk memulihkan kepercayaan publik.
“Kalau pengawasan lemah dan transparansi setengah hati, jangan salahkan publik jika mulai curiga. Pemerintah harus berani buka data dan meluruskan pelaksanaan di lapangan,” tambahnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak penyelenggara program belum memberikan penjelasan resmi atas berbagai sorotan tersebut. Di tengah meningkatnya perhatian publik, masyarakat menunggu langkah nyata—bukan sekadar klarifikasi normatif—agar program pemenuhan gizi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh mereka yang berhak.(Red)

