Presnews.my.id|Sampang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi basah melalui kegiatan sosialisasi sekaligus pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana). Program ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hasil Rapat Koordinasi dan Apel Kesiapsiagaan Hidrometeorologi Basah tingkat nasional.
Upaya strategis tersebut difokuskan pada sejumlah wilayah rawan bencana di Kabupaten Sampang, yakni Kecamatan Karangpenang, Pangarengan, Torjun, Jrengik, dan Sreseh. Pembentukan Destana di wilayah-wilayah ini menjadi langkah penting setelah melalui proses sinkronisasi lintas sektor yang tidak singkat.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Sampang melalui Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan (PK), Ahmed Baso, menegaskan bahwa terwujudnya Destana merupakan hasil kerja bersama yang membutuhkan komitmen dan konsistensi.
“Sinkronisasi program penanggulangan bencana dengan pemanfaatan Dana Desa membutuhkan waktu hampir dua tahun. Alhamdulillah, saat ini mulai terealisasi. Ini menunjukkan adanya keseriusan dan kesadaran bersama antara pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat,” ujar Baso.
Ia menekankan bahwa Destana bukan sekadar pemenuhan administrasi, melainkan wadah penguatan kapasitas desa agar mampu mengenali risiko, beradaptasi, serta merespons ancaman bencana secara mandiri dan terstruktur.
“Desa Tangguh Bencana adalah desa yang mampu melindungi warganya. Destana di Karangpenang, Pangarengan, Torjun, Jrengik, dan Sreseh diharapkan menjadi contoh dan rujukan bagi desa-desa lain di Kabupaten Sampang dalam membangun ketangguhan berbasis komunitas,” tambahnya.
Langkah ini dinilai semakin relevan seiring peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan bahwa menjelang akhir 2025 hingga awal 2026, sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim hujan dengan potensi meningkatnya bencana hidrometeorologi basah, seperti hujan lebat, petir, angin kencang, hingga gelombang tinggi.
BMKG juga memetakan adanya potensi curah hujan tinggi hingga sangat tinggi pada periode Januari hingga Maret 2026 di sejumlah wilayah, termasuk Pulau Jawa dan sekitarnya. Kondisi tersebut menuntut kesiapsiagaan yang serius dari pemerintah daerah hingga tingkat desa.
Sebagai bagian dari dukungan mitigasi bencana nasional, BMKG telah menyiagakan 38 Unit Pelaksana Teknis (UPT) di setiap provinsi, membentuk Posko Gabungan di 13 pelabuhan dan 96 bandara, serta memperkuat layanan informasi cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi seperti media sosial @infoBMKG, Call Center (021) 196, dan sistem peringatan dini berbasis nowcasting.
BPBD Kabupaten Sampang mengimbau seluruh pemangku kepentingan, mulai dari kecamatan hingga desa, agar aktif memanfaatkan informasi dan peringatan dini BMKG sebagai dasar pengambilan keputusan serta langkah mitigasi di lapangan.
Dengan terbentuknya Destana di sejumlah wilayah rawan, BPBD Sampang optimistis upaya pengurangan risiko bencana dapat dilaksanakan secara lebih sistematis, terencana, dan berkelanjutan, dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana.(Wir)

