Hiburan Rakyat Dikriminalisasi? Lomba Kelereng di Sampang Dituding Judi Usai Tolak “Jatah Rokok”

Hiburan Rakyat Dikriminalisasi? Lomba Kelereng di Sampang Dituding Judi Usai Tolak “Jatah Rokok”

Sabtu, 24 Januari 2026, Januari 24, 2026


Presnews.my.id|Sampang – Di tengah minimnya ruang hiburan rakyat, lomba kelereng justru tampil sebagai denyut kehidupan kampung yang masih bertahan di sejumlah wilayah Kabupaten Sampang. Permainan tradisional ini kembali digelar terbuka di Desa Paseyan, Dusun Kaso’an, Desa Aengsareh, hingga Jalan Aji Gunung, Kelurahan Gunung Sekar, Kecamatan Sampang, dan dipastikan tanpa unsur perjudian.


Namun ironisnya, kegiatan rakyat yang sarat nilai kebersamaan ini sempat dicemari tudingan liar dan fitnah. Warga menegaskan, tuduhan tersebut tidak berdasar dan sama sekali tidak mencerminkan fakta di lapangan.


Murad, warga Desa Paseyan, menyatakan lomba kelereng yang digelar murni sebagai hiburan warga dan ajang silaturahmi, bukan praktik judi seperti yang dituduhkan.
“Dulu pernah dibubarkan karena dikira judi. Setelah dicek, itu tidak benar. Sekarang kami tertata, terbuka, dan jelas wadahnya,” tegas Murad, Sabtu (24/01).


Ia menilai, tudingan perjudian terhadap lomba kelereng adalah upaya pengaburan fakta. Menurutnya, menyamakan lomba kelereng dengan praktik judi jelas menyesatkan.


“Kalau judi itu ada taruhan, seperti sabung ayam atau merpati. Lomba kelereng ini adu keterampilan, tidak ada uang taruhan sama sekali,” ujarnya lugas.


Murad bahkan mengungkap fakta yang lebih serius. Ia menyebut adanya oknum yang sempat meminta “jatah rokok” dalam kegiatan tersebut. Permintaan itu ditolak warga, dan sejak saat itu muncul isu miring yang menuding lomba kelereng sebagai perjudian.


“Memang ada preman yang minta jatah rokok. Tidak kami beri. Setelah itu muncul fitnah kalau ini judi. Itu yang sebenarnya,” bebernya.


Pernyataan senada disampaikan Muhammad, warga Desa Aengsareh. Ia menegaskan lomba kelereng digelar secara terbuka, disaksikan anak-anak hingga orang dewasa, tanpa ada yang ditutup-tutupi.


“Ini ajang kumpul warga. Anak-anak, orang tua, semua datang. Kampung jadi hidup. Tidak ada yang disembunyikan,” katanya.


Sementara itu, Sulaiman, warga Jalan Aji Gunung, Kelurahan Gunung Sekar, menyebut lomba kelereng sebagai hiburan rakyat paling jujur dan murah meriah di tengah mahalnya akses hiburan modern.


“Sekarang hiburan mahal. Lomba kelereng ini gratis, semua bisa ikut, nonton juga gratis. Anak-anak senang, orang tua terhibur,” ujarnya.


Ia menambahkan, kegiatan tersebut justru memberi dampak sosial yang positif, terutama dalam mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap gawai.


“Daripada anak-anak terus main HP, lebih baik main kelereng. Ada interaksi, ada tawa, kampung jadi ramai tapi sehat,” tegasnya.


Warga menilai lomba kelereng bukan sekadar permainan, melainkan benteng terakhir hiburan tradisional yang masih mampu mempererat kebersamaan dan menjaga nilai sosial masyarakat.


Mereka juga menyatakan tidak alergi pengawasan dan membuka diri jika aparat atau pihak terkait ingin memantau langsung kegiatan tersebut.


“Silakan dipantau. Kami tidak takut karena memang tidak ada judi,” kata Murad.


Lomba kelereng, yang telah lama hidup di tengah masyarakat, kini kembali menegaskan jati dirinya sebagai hiburan rakyat yang jujur, terbuka, inklusif, dan bermartabat, sekaligus menjadi tamparan bagi siapa pun yang mencoba memelintir kegiatan warga demi kepentingan tertentu.(Wir) 

TerPopuler